Aku pernah memintamu..
Untuk membohongi cinta dalam hatiku..
dengan simpati & kelembutan palsumu..
aku kan tetap bergeming..Walau semua itu semu..
Sinar mata penuh kekaguman
sebagai sumber inspirasimu
untuk menyakiti lebih dalam
jiwaku yang lunak ini.
Seluruh perhatian dan senyumanmu
Yang masih tetap setia membohongi nuraniku.
Mengoyak seluruh perasaan di dalam hatiku.
Kau akan terus memasukkan racun di dalamnya.
This is my personal blog...you can see my blog again and over again, you can share my blog on FB or Twitter..
Sabtu, 05 Maret 2011
Jiwa yang Terabaikan
Apalah arti diriku bagimu?
Bahkan Aku hanyalah sesosok raga tak berjiwa..
Yang akan menghilang..
Seperti raungan kecil..
Diantara suara gelombang yang menghantam tepian di kejauhan..
Apalah Aku dibandingmu?
Kau slalu bersinar terang..
Laksana cahaya bintang yang menyilaukan.
Menghadirkan kehangatan.
Di dalam lubuk jiwaku.
Kini, tak ada lagi pendar cahaya bulan..
Yang slalu menghangatkan hatiku..
Kemudian tiba-tiba Aku terbangun..
DIantara kesadaranku, timbul ilusi sesaat.
Seluet wajahmu hadir dihadapanku.
Kucoba meraihmu dengan sekuat tenagaku..
Namun percuma, itu hanyalah ilusi..
Laksana rintik-rintik hujan yang tak lagi berarti.
Sgalanya tlah berakhir.
Namaku tlah begitu lama terlupakan
Dalam amukan gelombang dan angin baru yang menggelak.
Seperti kertas yang tlah begitu lama menguning.
Termakan usia.
Namaku hanya akan terukir di batu.
Batu yang terlihat berlumut,tak berpemilik.
Begitu terabaikan..
Namun 1 yang kuingat pasti.
Saat terakhir kali Aku merasakan deru nafasku..
Kau hadir disisiku..
Bahkan Aku hanyalah sesosok raga tak berjiwa..
Yang akan menghilang..
Seperti raungan kecil..
Diantara suara gelombang yang menghantam tepian di kejauhan..
Apalah Aku dibandingmu?
Kau slalu bersinar terang..
Laksana cahaya bintang yang menyilaukan.
Menghadirkan kehangatan.
Di dalam lubuk jiwaku.
Kini, tak ada lagi pendar cahaya bulan..
Yang slalu menghangatkan hatiku..
Kemudian tiba-tiba Aku terbangun..
DIantara kesadaranku, timbul ilusi sesaat.
Seluet wajahmu hadir dihadapanku.
Kucoba meraihmu dengan sekuat tenagaku..
Namun percuma, itu hanyalah ilusi..
Laksana rintik-rintik hujan yang tak lagi berarti.
Sgalanya tlah berakhir.
Namaku tlah begitu lama terlupakan
Dalam amukan gelombang dan angin baru yang menggelak.
Seperti kertas yang tlah begitu lama menguning.
Termakan usia.
Namaku hanya akan terukir di batu.
Batu yang terlihat berlumut,tak berpemilik.
Begitu terabaikan..
Namun 1 yang kuingat pasti.
Saat terakhir kali Aku merasakan deru nafasku..
Kau hadir disisiku..
Langganan:
Komentar (Atom)